Posting terpopuler 30 hari terakhir :

03 Januari 2009

Biaya Langsung-Direct Costing/Biaya Penuh-Absorption Costing

Direct Costing/Variable Costing

Karakteristik:

a. Perhitungan biaya produksi yang hanya memasukkan biaya variabel saja.

b. Menganut konsep biaya produk untuk perhitungan biaya produksi variabel, dan menganut konsep biaya periodik untuk perhitungan biaya produksi non variabel.

c. Laporan biaya untuk memenuhi pihak Internal.

d. Laporan Rugi Laba disajikan dengan format kontribusi.

e. Analisa biaya dilakukan oleh pihak Internal untuk perencanaan laba, penetapan harga pokok, pengendalian biaya dan pengambilan keputusan Internal...


Absorption Costing/Full Costing

Karakteristik:

a. Perhitungan biaya produksi dengan memasukkan biaya tetap dan biaya variabel.

b. Menganut konsep biaya produk untuk perhitungan biaya produksi variabel, dan menganut konsep biaya periodik untuk perhitungan biaya produksi non variabel.

c. Laporan biaya untuk memenuhi pihak Eksternal.

d. Laporan Rugi Laba disajikan dengan format tradisional.

e. Analisa biaya dilakukan oleh pihak Internal untuk perhitungan biaya persediaan, penentuan laba dan pelaporan keuangan untuk pihak Eksternal.

Ilustrasi:

Temon, Co memproduksi dan menjual alat tenun dari bahan kayu. Adapun data operasional tahun lalu sebagai berikut:

Harga jual per unit======Rp.500.000

Biaya produksi :

Biaya variabel per unit

Bahan langsung========Rp.110.000
Tenaga kerja langsung===Rp. 60.000
Overhead pabrik variabel=Rp. 30.000
Beban Adm. & Penjualan==Rp.50.000

Biaya Tetap per tahun
Overhead pabrik tetap===Rp.12.000.000
Beban Adm. & Penjualan==Rp.7.000.000

Unit persediaan awal 0
Unit yang diproduksi 100 unit
Unit yang terjual 80 unit

Biaya produksi berdasarkan absorption costing =

Bahan langsung + Tenaga kerja langsung + Overhead pabrik
= Rp. 110.000 + Rp. 60.000 + Rp. 30.000 + (Rp.12.000.000/100)
= Rp. 320.000

Biaya produksi berdasarkan direct costing/variable costing =

Bahan langsung + Tenaga kerja langsung + Overhead pabrik variabel
= Rp. 110.000 + Rp. 60.000 + Rp. 30.000
= Rp. 200.000


Laporan Laba Rugi
berdasarkan absorption costing:


Penjualan (80 X Rp.500.000)====Rp.40.000.000

HPP:
Persediaan awal=======Rp.0
Harga pokok produksi
(100 x Rp.320.000)====Rp.32.000.000+
Brg tersedia untuk dijual=Rp.32.000.000
Persediaan akhir=======Rp. 6.400.000-
Harga pokok penjualan=========Rp.25.600.000
Laba Kotor=================Rp.14.400.000-
Beban Adm & Penjualan========Rp.11.000.000-
Laba Neto==================Rp. 3.400.000

Catatan :
Beban Adm.& Penjualan = (80xRp.50.000)+ Rp. 11.000.000

Laporan Laba Rugi
berdasarkan direct/variable costing


Penjualan==================Rp.40.000.000

Biaya variabel:
Harga pokok produksi
(80 x Ro.200.000)===Rp.16.000.000
Beban Adm.& Penjualan
(80 x Rp.50.000)====Rp. 4.000.000 +
Total biaya variabel===========Rp.20.000.000 -
Margin kontribusi============Rp.20.000.000

Biaya tetap:
Overhead pabrik tetap=Rp.12.000.000
Beban adm. & PenjualanRp. 7.000.000
Total Biaya Tetap============Rp.19.000.000-
Laba Neto=================Rp. 1.000.000

Perbedaan laba antara laba absorption costing dan laba variable costing dikarenakan volume produksi lebih besar daripada volume produksi. Perbedaan pengakuan biaya terhadap overhead tetap ini mengakibatkan laba absorption costing > laba variable costing sebesar Rp. 2.400.000 yaitu dengan mengalikan antara (100 unit-80unit) x ( Rp.12.000.000/100). Absorption menggunakan pendekatan penjualan sedangkan variable costing menggunakan pendekatan produksi.

2 komentar:

kurnia's fam mengatakan...

ilustrasi yang menarik, hanya saya belum jelas untuk beban adm & penjualan di rugi laba ke 2 metode tsb, 11 juta di full costing dan @ 50.000 di variable costing, diperoleh darimana ? thanks penjelasannya

Gen Norman T, SE Ak. MM mengatakan...

pertanyaan kurnia's fam sudah diterjawab, silahkan baca penjelasannya. terima kasih